بسم الله الر حمن الر حيم
Keluarga adalah guru yang pertama
bagi si anak, khususnya orang tua. Sehingga apa yang dilakukan orang tua
terhadap anaknya sangat berdampak kepada karakter anak. Namun sayangnya, banyak
orang tua yang salah dalam menerapkan pendidikan kepada si anak. Buah jatuh tidak
jauh dari pohonnya menurut saya adalah salah jika diartikan dengan karakter
anak tidak jauh berbeda dengan karakter orang tua nya. Karena yang mempengaruhi
karakter anak adalah sistim yang diberlakukan didalam rumah keluarga.
Kebanyakan orang tua pada masa ini
sering membiarkan anaknya melakukan suatu hal. Dan rata rata mereka
menggunakan alasan bahwa anak juga membutuhkan kebebasan. Memang ini tidak
salah 100%, karena anak juga membutuhkan kebebasan di beberapa waktu mereka. Namun
yang disayangkan adalah pada akhirnya anak tidak tau kapan waktunya berhenti,
dan sedikit anak yang bisa membedakan tindakan salah dan benar.
Pada hal ini juga sering ditemukan
pada orang tua yang takut untuk mengerem perbuatan anak. Beberapa mengatakan
bahwa itu termasuk proses kreativitas si anak, agar anak menjadi pemberani dan
lain sebagainya. Perlu diketahui bahwa anak juga perlu mendapatkan pelajaran
dimana anak berada dibawah, berada pada posisi tertekan, serta susah. Jika hal
ini telah diberlakukan pada anak, maka anak akan mendapatkan pola pikir kritis,
berani, tau diri, serta mandiri.
Juga ada beberapa orang tua yang
mengekang anak untuk melakukan suatu hal dengan alasan bahwa mereka takut. Takut
dengan apa? Takut jika terjadi suatu hal yang membuat hati mereka para orang
tua resah. Seperti terjatuh, terjerumus dan lain sebagainya. Dan juga, hal ini
tidak bisa disalahkan. Hampir semua orang tua yang menggunakan sistim protektif
seperti ini memberikan segala hal kepada anak. Dan tidak bisa disalahkan jika
anak memiliki sikap Pragmatis (serba instan) serta menjadi Pemimpi.
Rasa khawatir yang timbul dihati
orang tua memang tidak bisa disalahkan. Tapi apakah setiap orang tua ingin
anaknya tidak bisa tumbuh berkembang menjadi pemuda yang gagah berani. Orang
tua juga harus bisa membedakan kapan waktu anak dirumah dan kapan waktu
membiarkan keluar bersama teman temannya. Agar anak juga bisa mendapatkan teman
yang menyokong tumbuh kembangnya.
Memang setiap orang tua menginginkan
anaknya menjadi Pemimpin. Namun kebanyakan dari mereka salah dalam
menyikapinya. Ada yang terlalu membebaskannya juga ada yang terlalu protektif
terhadap si anak. Dimana di kedua hal ini memiliki dampak negatif terhadap si
anak. Di satu sisi anak menjadi pragmatis dan disatu sisi anak menjadi tak tau
diri.
Jangan khawatir karena setiap
masalah pasti ada solusi. Sama seperti pola pendidikan pembentukan karakter
anak. Ada sistim terbaik yang bisa orang tua berikan kepada si anak.
Didik anak dari hati. Seperti
yang dicanangkan oleh KakSeto “Family is
the real education, lebih efektif, dan dapat mendidik dari hati ke hati."
Yang dimaksud adalah pendidikan halus bukan dengan kekerasan. Beberapa anak
menjadi brutal dikarenakan kekerasan yang didapat dari keluarganya. Setelah anak
mendapat kekerasan dirumah, anak akan mempraktikannya atau melampiaskannya. Perlu
diketahui bahwa cara pelampiasan anak adalah berbeda beda. Maka dari itu, jika
terlanjur terjadi kekerasan maka orang tua harus berjaga agar anak melampiaskan
kepada sisi yang positif.
Menjadi
sahabat anak. Hal ini dapat menjadikan anak lebih santai dirumah. Menjadi sahabat
bukan berarti tanpa batasan, tapi harus dengan batasan. Jika berhasil menjadi
sahabat bagi sianak, maka orang tua akan dapat mengetahui aktivitas anak dengan
mudahnya. Orang tua juga menjadi tempat curahan hati si anak. Orang tua akan
semakin mudah untuk mengontrol kegiatan anak. Karena anak sendiri yang
membeberan kegiatan sehari harinya.
Berikan
motivasi berkala. Berkala yang dimaksud adalah waktu pemberian yang
berkala. Bukan hanya sekali seumur hidup, tapi setiap minggu atau setiap bulan.
Sehingga anak dapat berpikir mengenai apa yang telah dan apa yang akan
diperbuat.
Adakan
musyawarah rutin. Yang ini merupakan sunnah yang dianjurkan nabi. Keluarga
melakukan musyawarah setiap pagi, sebelum beraktifitas atau setelah shalat
subuh. Dalam forum ini, setiap individu dalam keluarga menceritakan kegiatan
sehari yang telah dilakukannya. Keterbukaan sangat dibutuhkan dalam kegiatan
ini. Setelah semua diceritakan, maka giliran ayah selaku kepala keluarga yang
menjadi hakim, menjadi penengah, menjadi motivator, menjadi pengarah. Jika tercapai
kegiatan ini, maka keluarga akan menjadi lebih kompak, saling support, saling
mengandalkan dan saling percaya.
Semoga bermanfaat, Jazakumullah
Wassalamu’alaikum Wr. Wb.
Tag :
Keseharian,
Pelajaran Islam

0 Komentar untuk "Keluarga masuk unsur pendidikan bagi anak??"