Laman

Keluarga masuk unsur pendidikan bagi anak??


بسم الله الر حمن الر حيم
Assalamu’alaikum Wr. Wb.

            Keluarga adalah guru yang pertama bagi si anak, khususnya orang tua. Sehingga apa yang dilakukan orang tua terhadap anaknya sangat berdampak kepada karakter anak. Namun sayangnya, banyak orang tua yang salah dalam menerapkan pendidikan kepada si anak. Buah jatuh tidak jauh dari pohonnya menurut saya adalah salah jika diartikan dengan karakter anak tidak jauh berbeda dengan karakter orang tua nya. Karena yang mempengaruhi karakter anak adalah sistim yang diberlakukan didalam rumah keluarga.
            Kebanyakan orang tua pada masa ini sering membiarkan anaknya melakukan suatu hal. Dan rata rata mereka menggunakan alasan bahwa anak juga membutuhkan kebebasan. Memang ini tidak salah 100%, karena anak juga membutuhkan kebebasan di beberapa waktu mereka. Namun yang disayangkan adalah pada akhirnya anak tidak tau kapan waktunya berhenti, dan sedikit anak yang bisa membedakan tindakan salah dan benar.
            Pada hal ini juga sering ditemukan pada orang tua yang takut untuk mengerem perbuatan anak. Beberapa mengatakan bahwa itu termasuk proses kreativitas si anak, agar anak menjadi pemberani dan lain sebagainya. Perlu diketahui bahwa anak juga perlu mendapatkan pelajaran dimana anak berada dibawah, berada pada posisi tertekan, serta susah. Jika hal ini telah diberlakukan pada anak, maka anak akan mendapatkan pola pikir kritis, berani, tau diri, serta mandiri.
            Juga ada beberapa orang tua yang mengekang anak untuk melakukan suatu hal dengan alasan bahwa mereka takut. Takut dengan apa? Takut jika terjadi suatu hal yang membuat hati mereka para orang tua resah. Seperti terjatuh, terjerumus dan lain sebagainya. Dan juga, hal ini tidak bisa disalahkan. Hampir semua orang tua yang menggunakan sistim protektif seperti ini memberikan segala hal kepada anak. Dan tidak bisa disalahkan jika anak memiliki sikap Pragmatis (serba instan) serta menjadi Pemimpi.
            Rasa khawatir yang timbul dihati orang tua memang tidak bisa disalahkan. Tapi apakah setiap orang tua ingin anaknya tidak bisa tumbuh berkembang menjadi pemuda yang gagah berani. Orang tua juga harus bisa membedakan kapan waktu anak dirumah dan kapan waktu membiarkan keluar bersama teman temannya. Agar anak juga bisa mendapatkan teman yang menyokong tumbuh kembangnya.
            Memang setiap orang tua menginginkan anaknya menjadi Pemimpin. Namun kebanyakan dari mereka salah dalam menyikapinya. Ada yang terlalu membebaskannya juga ada yang terlalu protektif terhadap si anak. Dimana di kedua hal ini memiliki dampak negatif terhadap si anak. Di satu sisi anak menjadi pragmatis dan disatu sisi anak menjadi tak tau diri.
            Jangan khawatir karena setiap masalah pasti ada solusi. Sama seperti pola pendidikan pembentukan karakter anak. Ada sistim terbaik yang bisa orang tua berikan kepada si anak.
            Didik anak dari hati. Seperti yang dicanangkan oleh KakSeto “Family is the real education, lebih efektif, dan dapat mendidik dari hati ke hati." Yang dimaksud adalah pendidikan halus bukan dengan kekerasan. Beberapa anak menjadi brutal dikarenakan kekerasan yang didapat dari keluarganya. Setelah anak mendapat kekerasan dirumah, anak akan mempraktikannya atau melampiaskannya. Perlu diketahui bahwa cara pelampiasan anak adalah berbeda beda. Maka dari itu, jika terlanjur terjadi kekerasan maka orang tua harus berjaga agar anak melampiaskan kepada sisi yang positif.
            Menjadi sahabat anak. Hal ini dapat menjadikan anak lebih santai dirumah. Menjadi sahabat bukan berarti tanpa batasan, tapi harus dengan batasan. Jika berhasil menjadi sahabat bagi sianak, maka orang tua akan dapat mengetahui aktivitas anak dengan mudahnya. Orang tua juga menjadi tempat curahan hati si anak. Orang tua akan semakin mudah untuk mengontrol kegiatan anak. Karena anak sendiri yang membeberan kegiatan sehari harinya.
            Berikan motivasi berkala. Berkala yang dimaksud adalah waktu pemberian yang berkala. Bukan hanya sekali seumur hidup, tapi setiap minggu atau setiap bulan. Sehingga anak dapat berpikir mengenai apa yang telah dan apa yang akan diperbuat.

            Adakan musyawarah rutin. Yang ini merupakan sunnah yang dianjurkan nabi. Keluarga melakukan musyawarah setiap pagi, sebelum beraktifitas atau setelah shalat subuh. Dalam forum ini, setiap individu dalam keluarga menceritakan kegiatan sehari yang telah dilakukannya. Keterbukaan sangat dibutuhkan dalam kegiatan ini. Setelah semua diceritakan, maka giliran ayah selaku kepala keluarga yang menjadi hakim, menjadi penengah, menjadi motivator, menjadi pengarah. Jika tercapai kegiatan ini, maka keluarga akan menjadi lebih kompak, saling support, saling mengandalkan dan saling percaya.

Semoga bermanfaat, Jazakumullah
Wassalamu’alaikum Wr. Wb.
0 Komentar untuk "Keluarga masuk unsur pendidikan bagi anak??"

Back To Top